“limaribu dua… lima ribu dua”, ibu – ibu penjaja pernik-pernik itu seakan melakukan intervensi padaku dan rekan-rekanku yang lain. Tapi kasihan juga, mereka begitu antusias hanya demi 5 ribu rupiah.”orang minta-minta aja dikasih Pak, kami jualan tidak dibeli”, benar juga kata-kata itu. tapi, kenapa aku menjadi orang yang sangat kikir saat itu. Sepintas kuperhatikan si asep atau si tole atau si gus bali dengan jurigen berisi bensin sibuk mengisi bahan bakar. jerigen yang mungkin lebih berat beberapa kilo dari berat tubuhnya yang kering itu. Beberapa kali kuperhatikan dia sedang mengisi bahan bakar diatas boat kayu tua, dengan cat2 kebiruan dengan bendera merah putih yang konon adalah lambang keberanian dan kesucian yang tak tau lagi aku, dimana keberanian orang-orang sekarang, banyak sekali yang hanya mengumbar omongan tanpa bukti dan mengobral kesucian mereka demi segelas minuman.
bergegas saja kuambil kamera, kulihat si kering ini sekuat tenaga mengayuh perahunya, bocah… bocah… sebagian anak sepertimu sedang asyik bermain PS dengan kaset terbarunya, atau ada yang dengan gaya nyentrik seperti gigol* di pub bonty kemarin malam. ha…ha.. dunia memang aneh, tapi aku salut padamu! Dunia ini adil, suatu hari nanti kau kan berlayar lebih jauh! mengibarkan bendera lebih besar dengan ombak yang jauh lebih besar…. berlayarlah, kayuhlah,… didepanmu ada banyak sekali mimpi..



